Home / Berita Umum / Hubungan Kejadian Alam Belom Dapat Di Pastikan

Hubungan Kejadian Alam Belom Dapat Di Pastikan

Hubungan Kejadian Alam Belom Dapat Di Pastikan – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meletus (erupsi) sebelum berlangsung tsunami di pesisir Banten serta Lampung. Meskipun begitu, hubungan pada dua kejadian alam itu belum juga dapat diyakinkan.

Belumlah jelas benar hubungan pada momen erupsi Gunung Anak Krakatau dengan tsunami di pesisir Banten serta Lampung. Akan tetapi yang pasti, Anak Krakatau telah menggeliat semenjak sebelum tsunami.

“Disangka karena erupsi itu peluang langsung bisa ataukah tidak langsung menyebabkan terjadinya tsunami,” kata Kepala BMKG Dwikorita Kurnawati, di kantornya, Jl Angkasa, Jakarta Pusat, Minggu (23/12/2018).

Gunung Anak Krakatau adalah ‘anak kandung’ dari Gunung Krakatau yang merusak dianya melalui erupsi dahsyat tahun 1883. Menurut Pusat Vulkanologi serta Mitigasi Musibah Geologi (PVMBG), Gunung Anak Krakatau sekarang tengah melakukan babak perkembangan. Gunung itu telah setinggi 338 mtr. diatas permukaan laut.

Berdasar pada catatan kabar berita detikcom sampai Minggu (23/12/2018), Gunung Anak Krakatau telah menyandang status Siaga (Level II) semenjak 31 Oktober 2009, sebelumnya setelah berstatus siaga. Siaga ada pada satu tingkat dibawah status siaga. Status siaga bermakna ada penambahan pekerjaan berbentuk kelainan yang terlihat dengan visual atau hasil kontrol kawah, kegempaan serta tanda-tanda vulkanik yang lain. 30 September 2011, statusnya ditingkatkan jadi level III (siaga). Sebab aktivitasnya alami penurunan jadi statusnya di turunkan jadi Level II (Siaga) kembali pada tanggal 26 Januai 2012.

Untuk tahun 2018, Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Siaga mulai giat menggeliat semenjak 18 Juni. Berlangsung gempa vulkanik, tektonik, serta tremor di lokasi Selat Sunda itu. Gempa bertambah jadi 69 peristiwa /hari pada 19 Juni. Status Siaga selalu dipertahankan PVMBG sampai sekarang. Penduduk tidak bisa melakukan aktivitas pada radius 2 km dari gunung.

Sabtu 22 Desember 2018 petang, Team Patroli Kepulauan Krakatau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) merekam kegiatan Anak Krakatau. Jam 17.22 WIB, gunung itu menyemburkan material pijar terus-terusan. Situasi jadi mencekam sebab ada getaran yang rasanya.

“Nada dentuman ikut terdengar cukuplah keras yang mengakibatkan pos jagalah Pulau Panjang itu bergetar,” kata Kesatuan Pengendalian Rimba Konservasi (KPHK) Kepulauan Krakatau melalui account Instagram resminya.

Tinggi kolom abu lebih dari 1.500 m diatas puncak. Erupsi itu terekam pada seismograf dengan amplitudo maximum 58 mm dengan waktu kurang-lebih 5 menit 21 detik. Semenjak jam 12.00 WIB sampai 18.00 WIB, Anak Gunung Krakatau alami 423 letusan. Saluran lava pijar dilaporkan PVMBG mengalir ke ruang lautan disamping selatan.

Saat malam harinya, terjadi erupsi yang lalu tersisa misteri, apa terkait dengan tsunami selanjutnya ataukah tidak.

“Pada jam 21.03 WIB berlangsung letusan, selang beberapa lama ada informasi tsunami,” kata PVMBG melalui situs resminya pada Minggu (23/12/2018). Lava pijar terlontar sampai 2 km.

Jam 21.27 WIB, terpantau ada kenaikan muka air pantai. Terjadi tsunami di lokasi Banten serta Lampung. Beberapa ratus orang wafat.

Akan tetapi, PVMBG belumlah menyimpulkan jika erupsi Anak Krakatau-lah yang mengakibatkan tsunami. Soalnya, rekaman getaran tremor paling tinggi pada Juni 2018 tidak memunculkan gelombang air laut. Untuk memunculkan tsunami sebesar yang berlangsung pada semalam, memerlukan runtuhan yang lumayan besar yang masuk ke air laut. Butuh daya besar juga untuk melongsorkan runtuhan yang lumayan besar itu.

“Sampai sekarang ini team maupun penduduk disana belumlah lihat ada letusan besar dari Anak Krakatau,” kata Kabid Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi serta Mitigasi Musibah Geologi (PVMBG), Wawan Irawan, waktu pertemuan wartawan di Gedung PVMBG, Kota Bandung, Minggu (23/12/2018).

About admin